Dekap yang sedalam sukma terasa
Terbekas terisak meriak muka
Setiap kali wajah terlukis kumendo’a
Sebatas bayang lepas,
Membunuh kosongku siksa merindumu…
Bundaku…
Ketika engkau terjaga semalaman,
Memeluk-ku hangat;semasa kusakit dahulu
Ketika rebahku bersandar dipangkuanmu Bunda,jika Akku-butuh damaimu
Saat saat engkau dan akku masih bersama Bundaku…
Mencari, menapaki jejak matahari
Hampir setiap desahnya malam menderai sembiluku
Layaknya seperti ibarat aku telah kehilangan
Resah sesaknya jiwa,
Aku-ingin menemuimu Bundaku…
Menanti, pada setiap waktu mengharap Bunda kembali
Semenjak embun kemudian senja,
Walau memutih rambut berkapur…
Tetap akku menantimu Bundaku…
Akku merindumu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar